Jumat, 09 Juli 2021

Si Sulungku

 

Si Sulungku

Sisulung sudah lulus SD akan melanjutkan kejenjang berikutnya, sebelum pelaksanaan UN, anak sulung saya meminta melanjutkan ke SMP Negeri. Tetapi kita sebagai orang tua memikirkan untuk pengetahuan agamanya kalau melanjutkan sekolah di negeri. Bukan berarti sekolah di SMP Negeri tidak belajar agama, tetapi maksud saya kalau sekolah di Negeri kita sebagai orang tua yang notabene sibuk tidak bisa memantaunya.

Perpengalaman semasa SD nya, anak sulung saya sekolahkan di SDIT Mandiri dengan tujuan untuk belajar fullday dan di SDIT kurikulum pembelajarannya paduan dari kurikulum diknas dan kurikulum sekolah tentang keagamaan. Belajar fullday dari jam 07.00 sampai jam 15.00, berangkat sekolahnya bareng dengan saya sekalian saya berangkat kerja dan pulangnya naik mobil jemputan sekolah.

Pada waktu menjelang kenaikan kelas tiga, tiba – tiba anak  sulung saya minta pindah kesekolah ke SD Negeri. Dengan alasan pulang nya selalu terakhir sampai rumah, karena pulangnya ikut mobil jemputan sekolah, anak saya diantar pulang paling terakhir karena rumah saya rutenya  masuk dan sebelah kanan. Kalau alamat rumah teman-temannya disebelah kiri walaupun ada yang jauh masuk dari jalan raya, mereka diantar lebih dahulu. Itulah alasan utama anak saya ingin pindah ke SD Negeri. Walaupun sebenarnya bukan alasan utama satu-satunya. menurut pengamatan saya alasan anak saya minta pindah ke SD Negeri karena di komplek kami tinggal, 90% anak seusia dia sekolah di SD Negeri, asumsi anak sulung saya (enak ya sekolah dinegeri pulangnya cepat dan kelas dua berangkatnya siang. Asusmsi tersebut hasil dari karena anak saya aktif bermain dengan anak-anak satu gang lingkungan komplek kami tinggal.

Saya dan ayahnya menasehati dan memberikan penjelasan bahwa kakak disekolahkan di SDIT biar sekalian belajar ilmu agama, kalau sekolah dinegeri kakak harus sekolah Agama (TPA) selepas pulang sekolah SD, karena syarat masuk ke SMP Negeri wajib melampirkan ijazah TPA.  “Dan kakak Pulang sekolah (SDIT) selalu diantar ke rumah terakhir karena rute rumah kita, jadi kakak sabar saja dan bersyukur.  Kalau kakak mau pindah ke SD Negeri bagaimana dengan sekolah agama (TPA) nya?” sahut saya, dirumah tidak ada orang, ayah dan mamah kerja dan masa itu anak bungsu saya tinggal dikampung bersama neneknya. Kakak tidak ada yang membantu menyiapkan untuk sekolah TPA. Jadi jangan pindah ya tetap sekolah di SDIT.  “Tidak, pokoknya kakak mau pindah” jawabnya. “Kak, dipikirkan dulu jangan terburu-buru” sahut ayahnya.

Selang beberapa hari sebelum pengambilan raport, “kakak pokoknya mau pindah di SD Neger” katanya. “kakak kalau sekolah di negeri harus lebih ekstra untuk belajarnya bahkan belajar mandirinya karena selepas pulang sekolah negeri kakak harus menyiapkan sendiri utk lanjut TPA” jawab saya. “Tidak apa-apa saya akan lakukan itu” jawabnya. Saya dan ayahnya memikirkan hal ini, kalau dipaksa lanjut khawatir anak saya tertekan kalau diturutin bagaimana karena saya dan suami berangkat pagi pulang sore. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti kerja, dan anak sulung saya pindah sekolah di SD Negeri.

Seiring berjalannya waktu tidak terasa sudah berjalan dua bulan berlalu. Pas jam 4 sore pada waktu itu ada telepon dari teman yang bekerja di apotek, menawarkan pekerjaan menggantikan sementara temannya yang cuti melahirkan. Setelah saya diskusikan dengan suami dan anak, mereka menyetujuinya. Berangkat kerjanya pagi jam 7.30 dan pulangnya jam 7.00 malam. Selama pindah di SD Negeri anak sulung terlihat lebih semangat belajar dan mandiri walau seringnya berangkat sekolah TPA nya tidak mandi hanya ganti baju, salah satu efek karena di rumah tidak ada orang.

Pasca kelulusan SD, “mah, saya mau masuk SMP Negeri ya”, permintaanya. “Kak, kalau sekolah di SMP Negeri bagaimana dengan ngajinya? ini kakak sekolah di SD Negeri dan TPA, kemampuan ngajinya masih belum begitu bisa jadi melajutkan ke pesantren saja ya, biar kakak pinter ngajinya dan mengahfal alqurannya” respon saya. “ Ya sudah mah terserah mamah, gak apa-apa masuk pesantren, tapi pesantren mana?”timpalnya. Ya nanti kita survey dulu mencari pesantren yang cocok. Sejak itu saya, ayahnya juga mensurvey beberapa pesantren selain menyesuaikan dengan keuangan keluarga dan kecocokan anak sulung.

Sudah bebrapa pesantren yang sudah disurvey tapi masih belum ada yang cocok, tepat di bulan maret 2019, saya dan kedua anak saya mendatangi pesantren DarrIlmi yang beralamat di kota Serang Banten dengan bermaksud akan survey terlebih dahulu. “ayo kak, kita survey ke pesantren Daarilmi”   Ayo mah  jawab anak sulung saya, “Adik ikut mah”sahut anak bungsu saya. Setelah selesai bersiap-siap, kita   berangkat dengan mengendarai motor.

Setelah tiba di Daarilmi langsung ketempat informasi. “kebetulan bu hari ini adalah pelaksanaan tes gelombang terakhir, ibu bisa daftar sekarang dan langsung mengikuti test hari ini”penjelasan salah satu panitianya. “Kak, bagaimana?” pertanyaan ke anak sulung. “Ya sudah mah daftar saja” jawabnya. “ Ok daftar ya, kakak siap ikut test?” lanjut saya. “Ya sudah tidak apa-apa”jawabnya lagi. Akhirnya saya membayar pendaftarn sebasar Rp 30.000,-  dan mendapat no antrian test akademik dan wawancara. Sambil menunggu giliran test saya mengisi berkas-berkas yang harus diisi dan lampiran berkasnya menyusul kata penjelasan salah satu panitianya.

Setelah sekian menunggu, sampailah ke nomer antrian anak saya. Dipanggilah nama anak saya. Anak saya melakukan test akademik dengan lancer, kemudian test wawancara anak dan orang tua secara terpisah. “Pengumumannya online ya bu” penjelasan dari panitianya. Pengumuna via facebook Daarilmi.

Pada hari pengumuman saya buka link facebook daarilmi , saya abaca dengan cermat tertulis nama anak sulung diterima. “Alhamdulillah kak diterima” ucap saya ke anak sulung. Kemudian kita dating untuk membayar registrasi dan sekaligus pemebrangkatan calon santri ke pesantren tersebut. Saya dan anak saya senang bercampur bingung karena baru pertama pisah dengan anak sebaliknya juga yang dirasakan anak saya. Kita sebagai orang tua berusaha tegar dan menghibur dan menyemangati anak karena demi bekal masa depannya.

Karena kami sekeluarga belum perpengalaman tentang pesantren, mengantar pertama kali ke pesantren dengan membawa perbekalan baju dan mperlengkapan yang kita tahu saja. Ternyata ada miss communication , saya tidak dapat rincian apa-apa saja yang harus di bawa kepsantren, itu saya sadari setelah beberapa hari anak sudah dipesantren. Mungkin karena baru pengalaman pertama kami ke pesantren, hanya dapat penjelasan klo besar biaya masuk (_+) Rp 10 juta sudah dapa seragam sekolah, kasur, lemari dan alat mandi, buku dll.

Sudah 2 hari anak sulung saya berada dipesantren, tidak terasa air mata mengalir deras waktu itu saya sedang ada di kolam renang tempat latihan renang anak bungsu saya, sebelum masuk pesantren, selama pasca UN sampai menjelang masuk  dua hari masuk pesantren, si sulung dan sibungsu latihan renang bersama-sama. Air mata saya mengalir deras dan sesenggukan kebetulan saya duduk agak menjauh dari orang tua yang sama sedang menunggu anaknya berlatih renang. Tiba-tiba ada salah satu ibu menhampiri saya, “kenapa bu, ada apa bu”tanyanya dengan penasaran. “Tidak kenapa-kenapa bu” jawabku sambil mengusap air mataku yang tidak bisa dibendung lagi. Ibu tersebut terus bertanya ke saya, sampai saya menangkap disangkanya KDRT ini saya, langsung saya jelaskan kenapa saya menangis karena baru terpisah dengan anak anak saya yang sudah dapat dua hari dipesantren, teringat sisulung semasa latihan dan inget sebagian lainnya. Kemudian ibu tersebut memberikan masukkan dan berbagi pengalaman kalau dia juga pernah mengalami seperti ini. “Sudah lah bu ikhlaskan anak mencari ilmu, jangan dipikirin terus bahkan sampai ditangisi, kasihan anakny. Bisa nyetrum ke anaknya kalau terlalu dipikirin smapai ditangisi, anak juga bisa kepikiran ibunya bahkan anaknya bisa nangis di pesantren, seperti yang saya alami waktu pertama pisah dengan anak saya waktu kuliah jauh dari saya” ucap ibu penuh dengan kesungguhan untuk menghibur saya. Dengan  begitu reda air mata walaupun dalam hati masih ada sesak, saya kuatkan denga merasa terhibur juga, dalam hati saya ucapkan syukur kepada Allah, dikirimkan orang baik.

Besoknya, hari ke tiga si sulung dipesantren, sepulang latihan renang sibungsu saya mampir ke pesantren untuk mengantarkan makanan ringan untuk anak dipesantren. Sambil saya tanyakan “kakak kemarin teringat mamah gak?” “Ya kakak kemarin nangis teringat mamah” jawab nya sambil berlinang. “Kakak jangan kepikiran, mamah, ayah, adik dirumah baik-baik saja, pokoknya kakak semangat tujuan di pesantren mencari ilmu untuk bekal kakak dimasa akan dating”, mamah, ayah, adik sangat saying kakak , selalu mendoakan kakak, Ok kak” ucapku dengan menguatkan hati agar tegar walaupun mata juga berkaca-kaca. “Betah ya kak” sambil saya peluk. “Ya mah” jawabnya. Kemudian dia salim (bersalamam dengan mencium tangan saya) dan masuk kepesantren lagi.

Jadwal menjenguk si sulung di pesantren satu minggu sekali, denga tujuan untuk menyemangati agar betah anak dipondok. Alhamdulillah satu tahun berjalan, “Kak bagaimana di pondok? betah tidak?” Tanya ayahnya dengan bercanda. “Betah yah”jawabnya. “Kalau betah kenapa kurus dipondok?. “Gemukin kak, jadwalnya makan cepat-cepat makan biar tidak kehabisan makan di dapurnya” timpalku sambil bercanda. Sisulung tersenyum.

Beranjak sudah satu tahun lebih, sisulung di pondok. Pada waktu penjengukan di sawung tempat kita kumpul untuk melepaskan rindu dan makan bersama, “kak, kan sudah kelas dua , bagaimana kalau menjenguk kakaknya dua minggu sekali?”kata ayah. Kaka: “ya udah gak apa-apa, yang penting uang jajan dan bekalnya yang banyak untuk dua minggu”. “Ok siap” kataku dan  saling berpandangan. Kami sebagai orang tua merasakan bahagia melihat sisulung betah di pondok, perilakunya sopan dan semangat walaupun badan terlihat kurus beda sebelum ada dipondok. Setiap menjenguk kami tanyakan ada keluhan sakit tidak atau ada masalah ada yang membuat kakak tidak nyaman. Tidak ada katanya, cuma pernah ditempeleng guru matematika karena ketiduran dikelas pada saat guru menerangkan. Dengan menyemangati saya katakan “ya kalau itu wajar kak, anak laki-laki harus kuat”. Dia jawab tidak kerasa kok mah, dan dia bercerita suka dukanya di pondok. Kami orang tuanya mendengarkan dan memotivasi bahwa itu proses belajar. Selama satu tahun lebih tersebut kami sebagai orang tua menganalisa bagaimana perkembangan anak dipondok, intinya kami menyimpulkan bahwa naka kami betah dipondok.

Berjalannya waktu, sisulung dipondok sudah menginjak satu tahun setengah lebih, pandemic Covid-19 mulai mewabah ke seluruh Negara. Dan efeknya santri di pulangkan, kurang lebih  satu bulan si sulung ada dirumah. Kemudian balik lagi ke pondok, tidak berapa lama dia mengirimkan pesan melalui hp wali santri lain yang berkunjung ke anakanya. Isi pesannya, bahwa dia sakit panas. Besoknya saya datangi ke pondok, saya konfirmasi ke bagian petugas kesahatan, informasi yang saya dapat bahwa anaknya baik-baik saja dan melakukan aktifitas seperti biasa. Saya sebagai orang tua khawatir ingin memastikan benar atau tidaknya minta dipanggilkan anaknya. Dia menghampiri saya, dan terlihat sehat-sehat saja. “Saya sakit mah” katanya. Saya introgasi dan sdia menjelaskan, saya sebagai orang tua menyimpulkan mungkin dia perlu istirahat di rumah. “Baiklah, kalau maunya kakak pulang, oke pulang tapi setelah itu balik lagi ke pondok ya?” Ujar ku. Dia menyetujuinya. Kemudian saya ijin ke pengurus kemudian pulang. Setelah beberapa hari di rumah kemudian balik lagi ke pondok.

         Program dari pesantren bahwa dalam bulan puasa libur dan santri semua pulang, masuk kembali setelah lebaran. Setelah lebaran usai tiba masanya sisulung harus kembali ke pesantren. Satu hari sebelum masuk sudah harus mempersiapkan apa yang akan dibawa, tetapi sisulung tiba-tiba meminta tidak mau balik lagi kepondok karena tidak betah. Seketika kita sebagai orang tua kaget, seketika muncul pertanyaan bertubi-tubi, "kenapa baru sekarang bilang tidak betah, beberapa hari lagi sudah ujian akhir semester". Jawabnya saya sudah tidak betah lagi , mama ayah tidak tahu bagaimana kehidupan di podok itu. Kami sempat setengah marah dan kecewa tapi kami tahan dengan memberikan waktu sisulung  untuk berfikir dan semoga berubah pikiran.

          Setiap hari kami nasehati, tetap tidak berubah pikirannya. Sampai waktu sudah mepet, pelaksaanaan ujian akhir semester sudah kurang dua hari. Kami sebagai orang tua sudah putus asa bahkan terkesannya memaksa sisulung harus balik kepondok minimal kalau mau berhenti mengikuti ujian akhir semester dulu, baru mau pindah atau lanjut, hal itu dipikirkan selanjutnya. Tapi kami orang tua berharap kakak (sisulung) lanjut belajar samapai selesai. Dan sisulung menyetujui untuk berangkat kepondok.  Dua minggu kemudian, ba'da magrib tiba-tiba sisulung datang "Assalamualaikum, kakak kabur dari pesantren". Kami sebagai orang tua bingung dan pasrah. Segera kami konfirmasi pihak pondok untuk memberi thaukannya. Hari-hari berikutnya kami rayu, nasehati dengan halus bahkan dengan kasar. Tetap tidak mau balik ke pondok itu, maunya pindah pesantren ujar sisulung. 

            Kami sebagai orang tua, tidak bisa memaksakan kehendak karena khawatir malah tidak sesuai yang diharapakan. Masukan dari saudara dan teman, ini adalah ujian yang harus kami lewati. Planning sisulung ingin pindah pesantren. Tapi kami masih ragu dan bingung, kalau pindah pesantren tanggung sudah kelas tiga SMP, sedangkan dia meminta jenjang SMA tidak mau masuk pesantren. Planning kami melanjutkan ke MTS saja tanpa mondok, sisulung menyetujuinya. 

            Sungguh berat apa yang kami rasakan dengan kejadian seperti ini, semoga kedepannya banyak hikmah yang kami petik. Semoga sisulung dengan pindah dengan suasana baru lebih bersemangat belajar, tambah berbakti kepada orang tua, dan ilmunya membawa manfaat untuk dirinya sendiri dan bermanfaat untuk orang lain.  Aamin. We love you sulungku.

        

                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar