Sabtu, 10 Juli 2021
How to read figure "decimal" in English
Jumat, 09 Juli 2021
Si Sulungku
Si Sulungku
Sisulung
sudah lulus SD akan melanjutkan kejenjang berikutnya, sebelum pelaksanaan UN,
anak sulung saya meminta melanjutkan ke SMP Negeri. Tetapi kita sebagai orang
tua memikirkan untuk pengetahuan agamanya kalau melanjutkan sekolah di negeri.
Bukan berarti sekolah di SMP Negeri tidak belajar agama, tetapi maksud saya
kalau sekolah di Negeri kita sebagai orang tua yang notabene sibuk tidak bisa
memantaunya.
Perpengalaman
semasa SD nya, anak sulung saya sekolahkan di SDIT Mandiri dengan tujuan untuk
belajar fullday dan di SDIT kurikulum pembelajarannya paduan dari kurikulum
diknas dan kurikulum sekolah tentang keagamaan. Belajar fullday dari jam 07.00
sampai jam 15.00, berangkat sekolahnya bareng dengan saya sekalian saya
berangkat kerja dan pulangnya naik mobil jemputan sekolah.
Pada
waktu menjelang kenaikan kelas tiga, tiba – tiba anak sulung saya minta pindah kesekolah ke SD
Negeri. Dengan alasan pulang nya selalu terakhir sampai rumah, karena pulangnya
ikut mobil jemputan sekolah, anak saya diantar pulang paling terakhir karena
rumah saya rutenya masuk dan sebelah
kanan. Kalau alamat rumah teman-temannya disebelah kiri walaupun ada yang jauh
masuk dari jalan raya, mereka diantar lebih dahulu. Itulah alasan utama anak
saya ingin pindah ke SD Negeri. Walaupun sebenarnya bukan alasan utama
satu-satunya. menurut pengamatan saya alasan anak saya minta pindah ke SD
Negeri karena di komplek kami tinggal, 90% anak seusia dia sekolah di SD
Negeri, asumsi anak sulung saya (enak ya sekolah dinegeri pulangnya cepat dan
kelas dua berangkatnya siang. Asusmsi tersebut hasil dari karena anak saya
aktif bermain dengan anak-anak satu gang lingkungan komplek kami tinggal.
Saya
dan ayahnya menasehati dan memberikan penjelasan bahwa kakak disekolahkan di SDIT
biar sekalian belajar ilmu agama, kalau sekolah dinegeri kakak harus sekolah
Agama (TPA) selepas pulang sekolah SD, karena syarat masuk ke SMP Negeri wajib
melampirkan ijazah TPA. “Dan kakak Pulang
sekolah (SDIT) selalu diantar ke rumah terakhir karena rute rumah kita, jadi
kakak sabar saja dan bersyukur. Kalau
kakak mau pindah ke SD Negeri bagaimana dengan sekolah agama (TPA) nya?” sahut
saya, dirumah tidak ada orang, ayah dan mamah kerja dan masa itu anak bungsu
saya tinggal dikampung bersama neneknya. Kakak tidak ada yang membantu
menyiapkan untuk sekolah TPA. Jadi jangan pindah ya tetap sekolah di SDIT. “Tidak, pokoknya kakak mau pindah” jawabnya.
“Kak, dipikirkan dulu jangan terburu-buru” sahut ayahnya.
Selang
beberapa hari sebelum pengambilan raport, “kakak pokoknya mau pindah di SD
Neger” katanya. “kakak kalau sekolah di negeri harus lebih ekstra untuk
belajarnya bahkan belajar mandirinya karena selepas pulang sekolah negeri kakak
harus menyiapkan sendiri utk lanjut TPA” jawab saya. “Tidak apa-apa saya akan
lakukan itu” jawabnya. Saya dan ayahnya memikirkan hal ini, kalau dipaksa
lanjut khawatir anak saya tertekan kalau diturutin bagaimana karena saya dan
suami berangkat pagi pulang sore. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti kerja,
dan anak sulung saya pindah sekolah di SD Negeri.
Seiring
berjalannya waktu tidak terasa sudah berjalan dua bulan berlalu. Pas jam 4 sore
pada waktu itu ada telepon dari teman yang bekerja di apotek, menawarkan
pekerjaan menggantikan sementara temannya yang cuti melahirkan. Setelah saya
diskusikan dengan suami dan anak, mereka menyetujuinya. Berangkat kerjanya pagi
jam 7.30 dan pulangnya jam 7.00 malam. Selama pindah di SD Negeri anak sulung
terlihat lebih semangat belajar dan mandiri walau seringnya berangkat sekolah
TPA nya tidak mandi hanya ganti baju, salah satu efek karena di rumah tidak ada
orang.
Pasca
kelulusan SD, “mah, saya mau masuk SMP Negeri ya”, permintaanya. “Kak, kalau
sekolah di SMP Negeri bagaimana dengan ngajinya? ini kakak sekolah di SD Negeri
dan TPA, kemampuan ngajinya masih belum begitu bisa jadi melajutkan ke
pesantren saja ya, biar kakak pinter ngajinya dan mengahfal alqurannya” respon
saya. “ Ya sudah mah terserah mamah, gak apa-apa masuk pesantren, tapi
pesantren mana?”timpalnya. Ya nanti kita survey dulu mencari pesantren yang
cocok. Sejak itu saya, ayahnya juga mensurvey beberapa pesantren selain
menyesuaikan dengan keuangan keluarga dan kecocokan anak sulung.
Sudah
bebrapa pesantren yang sudah disurvey tapi masih belum ada yang cocok, tepat di
bulan maret 2019, saya dan kedua anak saya mendatangi pesantren DarrIlmi yang
beralamat di kota Serang Banten dengan bermaksud akan survey terlebih dahulu. “ayo
kak, kita survey ke pesantren Daarilmi”
Ayo mah jawab anak sulung saya,
“Adik ikut mah”sahut anak bungsu saya. Setelah selesai bersiap-siap, kita berangkat dengan mengendarai motor.
Setelah
tiba di Daarilmi langsung ketempat informasi. “kebetulan bu hari ini adalah
pelaksanaan tes gelombang terakhir, ibu bisa daftar sekarang dan langsung
mengikuti test hari ini”penjelasan salah satu panitianya. “Kak, bagaimana?”
pertanyaan ke anak sulung. “Ya sudah mah daftar saja” jawabnya. “ Ok daftar ya,
kakak siap ikut test?” lanjut saya. “Ya sudah tidak apa-apa”jawabnya lagi.
Akhirnya saya membayar pendaftarn sebasar Rp 30.000,- dan mendapat no antrian test akademik dan
wawancara. Sambil menunggu giliran test saya mengisi berkas-berkas yang harus
diisi dan lampiran berkasnya menyusul kata penjelasan salah satu panitianya.
Setelah
sekian menunggu, sampailah ke nomer antrian anak saya. Dipanggilah nama anak
saya. Anak saya melakukan test akademik dengan lancer, kemudian test wawancara
anak dan orang tua secara terpisah. “Pengumumannya online ya bu” penjelasan
dari panitianya. Pengumuna via facebook Daarilmi.
Pada
hari pengumuman saya buka link facebook daarilmi , saya abaca dengan cermat
tertulis nama anak sulung diterima. “Alhamdulillah kak diterima” ucap saya ke
anak sulung. Kemudian kita dating untuk membayar registrasi dan sekaligus
pemebrangkatan calon santri ke pesantren tersebut. Saya dan anak saya senang
bercampur bingung karena baru pertama pisah dengan anak sebaliknya juga yang
dirasakan anak saya. Kita sebagai orang tua berusaha tegar dan menghibur dan
menyemangati anak karena demi bekal masa depannya.
Karena
kami sekeluarga belum perpengalaman tentang pesantren, mengantar pertama kali
ke pesantren dengan membawa perbekalan baju dan mperlengkapan yang kita tahu
saja. Ternyata ada miss communication , saya tidak dapat rincian apa-apa saja
yang harus di bawa kepsantren, itu saya sadari setelah beberapa hari anak sudah
dipesantren. Mungkin karena baru pengalaman pertama kami ke pesantren, hanya
dapat penjelasan klo besar biaya masuk (_+) Rp 10 juta sudah dapa seragam
sekolah, kasur, lemari dan alat mandi, buku dll.
Sudah
2 hari anak sulung saya berada dipesantren, tidak terasa air mata mengalir
deras waktu itu saya sedang ada di kolam renang tempat latihan renang anak
bungsu saya, sebelum masuk pesantren, selama pasca UN sampai menjelang masuk dua hari masuk pesantren, si sulung dan
sibungsu latihan renang bersama-sama. Air mata saya mengalir deras dan
sesenggukan kebetulan saya duduk agak menjauh dari orang tua yang sama sedang
menunggu anaknya berlatih renang. Tiba-tiba ada salah satu ibu menhampiri saya,
“kenapa bu, ada apa bu”tanyanya dengan penasaran. “Tidak kenapa-kenapa bu”
jawabku sambil mengusap air mataku yang tidak bisa dibendung lagi. Ibu tersebut
terus bertanya ke saya, sampai saya menangkap disangkanya KDRT ini saya,
langsung saya jelaskan kenapa saya menangis karena baru terpisah dengan anak
anak saya yang sudah dapat dua hari dipesantren, teringat sisulung semasa
latihan dan inget sebagian lainnya. Kemudian ibu tersebut memberikan masukkan
dan berbagi pengalaman kalau dia juga pernah mengalami seperti ini. “Sudah lah
bu ikhlaskan anak mencari ilmu, jangan dipikirin terus bahkan sampai ditangisi,
kasihan anakny. Bisa nyetrum ke anaknya kalau terlalu dipikirin smapai
ditangisi, anak juga bisa kepikiran ibunya bahkan anaknya bisa nangis di
pesantren, seperti yang saya alami waktu pertama pisah dengan anak saya waktu
kuliah jauh dari saya” ucap ibu penuh dengan kesungguhan untuk menghibur saya. Dengan begitu reda air mata walaupun dalam hati
masih ada sesak, saya kuatkan denga merasa terhibur juga, dalam hati saya
ucapkan syukur kepada Allah, dikirimkan orang baik.
Besoknya,
hari ke tiga si sulung dipesantren, sepulang latihan renang sibungsu saya
mampir ke pesantren untuk mengantarkan makanan ringan untuk anak dipesantren.
Sambil saya tanyakan “kakak kemarin teringat mamah gak?” “Ya kakak kemarin
nangis teringat mamah” jawab nya sambil berlinang. “Kakak jangan kepikiran,
mamah, ayah, adik dirumah baik-baik saja, pokoknya kakak semangat tujuan di
pesantren mencari ilmu untuk bekal kakak dimasa akan dating”, mamah, ayah, adik
sangat saying kakak , selalu mendoakan kakak, Ok kak” ucapku dengan menguatkan
hati agar tegar walaupun mata juga berkaca-kaca. “Betah ya kak” sambil saya
peluk. “Ya mah” jawabnya. Kemudian dia salim (bersalamam dengan mencium tangan
saya) dan masuk kepesantren lagi.
Jadwal
menjenguk si sulung di pesantren satu minggu sekali, denga tujuan untuk
menyemangati agar betah anak dipondok. Alhamdulillah satu tahun berjalan, “Kak
bagaimana di pondok? betah tidak?” Tanya ayahnya dengan bercanda. “Betah
yah”jawabnya. “Kalau betah kenapa kurus dipondok?. “Gemukin kak, jadwalnya
makan cepat-cepat makan biar tidak kehabisan makan di dapurnya” timpalku sambil
bercanda. Sisulung tersenyum.
Beranjak
sudah satu tahun lebih, sisulung di pondok. Pada waktu penjengukan di sawung
tempat kita kumpul untuk melepaskan rindu dan makan bersama, “kak, kan sudah
kelas dua , bagaimana kalau menjenguk kakaknya dua minggu sekali?”kata ayah.
Kaka: “ya udah gak apa-apa, yang penting uang jajan dan bekalnya yang banyak
untuk dua minggu”. “Ok siap” kataku dan
saling berpandangan. Kami sebagai orang tua merasakan bahagia melihat
sisulung betah di pondok, perilakunya sopan dan semangat walaupun badan
terlihat kurus beda sebelum ada dipondok. Setiap menjenguk kami tanyakan ada
keluhan sakit tidak atau ada masalah ada yang membuat kakak tidak nyaman. Tidak
ada katanya, cuma pernah ditempeleng guru matematika karena ketiduran dikelas
pada saat guru menerangkan. Dengan menyemangati saya katakan “ya kalau itu wajar
kak, anak laki-laki harus kuat”. Dia jawab tidak kerasa kok mah, dan dia
bercerita suka dukanya di pondok. Kami orang tuanya mendengarkan dan memotivasi
bahwa itu proses belajar. Selama satu tahun lebih tersebut kami sebagai orang
tua menganalisa bagaimana perkembangan anak dipondok, intinya kami menyimpulkan
bahwa naka kami betah dipondok.
Berjalannya
waktu, sisulung dipondok sudah menginjak satu tahun setengah lebih, pandemic
Covid-19 mulai mewabah ke seluruh Negara. Dan efeknya santri di pulangkan,
kurang lebih satu bulan si sulung ada
dirumah. Kemudian balik lagi ke pondok, tidak berapa lama dia mengirimkan pesan
melalui hp wali santri lain yang berkunjung ke anakanya. Isi pesannya, bahwa
dia sakit panas. Besoknya saya datangi ke pondok, saya konfirmasi ke bagian
petugas kesahatan, informasi yang saya dapat bahwa anaknya baik-baik saja dan
melakukan aktifitas seperti biasa. Saya sebagai orang tua khawatir ingin
memastikan benar atau tidaknya minta dipanggilkan anaknya. Dia menghampiri
saya, dan terlihat sehat-sehat saja. “Saya sakit mah” katanya. Saya introgasi
dan sdia menjelaskan, saya sebagai orang tua menyimpulkan mungkin dia perlu
istirahat di rumah. “Baiklah, kalau maunya kakak pulang, oke pulang tapi
setelah itu balik lagi ke pondok ya?” Ujar ku. Dia menyetujuinya. Kemudian saya
ijin ke pengurus kemudian pulang. Setelah beberapa hari di rumah kemudian balik
lagi ke pondok.
Jumat, 27 Maret 2020
MATERI ANALITYCAL EXPOSITION TEXT KELAS XI SMKN 5 KOTA SERANG
LATIHAN SOAL UTS GENAP SISWA SMKN 5
LIGHTING
Lighting
is a sudden violent flash of electricity between a cloud and the ground or
from cloud to cloud. A lighting flash, or bolt can be several miles long. It
is so hot with an average temperature of 34.000 centigrade, that the air
around it suddenly expands with a loud blast, this is the thunder we hear.
Lighting
occurs in hot, wet storm, moist air is driven up to a great height. It forms
a type of cloud called cumulonimbus. When the cloud rises high enough, the
moisture freezes, and ice crystals and snowflakes are formed. These begin to
fall, turning to rain on the way down. This rain meets more moist air rising,
and it is the frictim between them which procedures static electricity. When
a cloud is fully charged with his electricity, it discharges with this
electricity.it discharges it as a lighting flash.
|
Selasa, 24 Maret 2020
Memo and Sign

picture 1
|
picture 2
|

picture 3
![]() |
picture 4
|

picture 5
|
- picture
1 : flight schedule
- picture
2 : memo
- picture
3 : menu
- picture
4 : symbol
- picture
5 : traffic sign



